Sebelumnya terima kasih untuk kawan-kawan Sastra Ilalang yang telah memberikan kesempatan menampilkan karya saya dalam buku, dan mengenalkannya pada masyarakat. Semoga Sastra selalu menjadi pembimbing dalam dialog keseharian
WACANA
Sungguh, tak tuntas padamu Nietzsche.
Karna aku berpaling pada goyang ngebor inul.
Lalu merekam tiap pembantaian di palestin.
Dan hanya karena cinta pula.
Lalu aku menyiksa diri pada sinetron-sinetron cengeng dan payah.
Pun pada keesokan hari kutemani obrolan tai kebo, sebuah kudapan pertemanan kopi denganmu Rene, Spinoza, Leibnitz, Wolff, Plato dan nabi-nabi di hatiku.
Dan sungguh, aku ingin tanyakan lagi padamu wahai orang-orang mati!
Kapan kita bertemu lagi, karena ingin kusumpal pantatmu dengan serapah.
Hingga tak nampak lagi hamburan kebodohan di otak-otak kami.
Malang, 15 Oktober 2011
REKONTRUKSI PELAMINAN
Sepanjang dua juta seratus dua
dan empat ratus menit hingga malam ini,
aku mendarat di landai sinar matamu,
saling kagum, saling diam,
berbincang di dimensi rahasia.
-purnama mengais mendung, lalu tersalip bintang jatuh-
Akan hinggap nanti diam-diam,
menunggu hati berubah warna jenar,
merona menghitung senyum termanis
yang mengaitkan bibirmu dan bibirku
dan sia-sia takkan mampir kala jeda.
-ciuman itu makin berdesing bagai hening-
-malam ini para penyihir putih berlabuh, malam paling hangat sepanjang musim-
Malang, 09 November 2011/22:22
MAZHAB
Telah purba buku-buku berbaris mengantri,
untuk berbincang dalam kepala,
padahal jika boleh jujur aku ingin berhenti seperti jeda,
mengurat memorabilia seperti halnya
sarapan pagi hari: kefir tawar diapit bagai sandwich.
Aku sedikit mengurangi kopi karna
istriku sering ngedumel tentang zat anti gizi.
Padanya aku nurut setengah mati
tapi jangan harap aku akan terkulai di depanmu,
pujanga atau bukan yang menuliskan kegalauan.
-Franz, Arivia, penembang solilokui, Malaka, Haidar, Som, Nasroen, dan
nama-nama aneh di dunia termasuk diriku sendiri-
pun diam di atas tinta telah menggerogoti hatiku.
Malang, 2011
GELISAH ITU MENJADI-JADI
Tiap berkendara,
adalah saat di mana aku memulai perenungan,
seperti sebuah tabiat yang lekat.
-menjadi filsuf bagi keluargaku, tak sekedar hitungan dan kebijakan-
Hidup adalah pembiayaan,
hidup jua mengepul banyak hal,
karena janji langit pastinya ditepati, mungkin.
-sujudku tak meminta apapun, aku merasa damai saja untuk sesaat,
menarik beberapa urat kaku dan penat-
Tiap berkendara,
sebenarnya aku malu untuk berhenti,
tapi tubuh butuh hal lebih untuk diisi.
Malang, 15 November 2011
KOLASE
Jika aku adalah susunan-susunan wacana,
dengan perekat omong kosong pernyataan.
-mereka menyebutnya, kolase-
Mungkin tak perlu prolog ramah-tamah,
dan sekolah wajib sembilan tahun,
ditambah beberapa mata kuliah,
dan percintaan dengan gadis-gadis mungil,
psikotropika hingga cairan pengar berukuran oz.
Buku-buku ialah masa lalu,
apalagi pekerjaan yang menguras tenaga.
Apakah perlu ditambahi garis lembur di jadwal harian?
Aku cuma ingin makan, bercinta, berbicara denganmu, Tuhan.
Dan surga, jangan Kau konsepsikan serumit mata kami memandang.
Jika aku berawal dari tanah yang Kau bangkitkan,
biarkan apapun yang ku tanam dalam tanah ini bangkit pula.






